Subscribe via RSS Feed If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.
Latest Post

Wirausaha Agribisnis

Written By trihanifa on Monday, 30 September 2013 | 1:08 am


Sistem Agribisnis


test labels

Enterpreneur Agribisnis

Written By trihanifa on Saturday, 13 July 2013 | 9:05 pm


Membangun, intinya adalah mengembangkan peradaban. Tantangan dalam  peradaban Indonesia ke depan adalah merancang dan merekayasa  masyarakat yang beragam dan ber-Bhineka Tunggal Ika supaya bisa mencapai adil dan makmur secara bersamaan. Bukan kemakmuran segelintir orang apalagi kemakmuran orang atas beban penderitaan rakyat kebanyakan. Membangun adalah membuat bangsa dan negara Indonesia dapat sederajat dengan bangsa-bangsa lain melalui kompetisi antar bangsa yang adil. Tulisan ini mencoba mengajak berpikir bersama untuk ikut andil memberi sumbangan lahirnya model rancangan peradaban dalam rangka menuju suatu tatanan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.  
Mengutip pendapat Covey (2005), bahwa dalam konteks sejarah ada lima tahap zaman peradaban manusia: pertama, zaman berburu dan mengumpulkan pangan; kedua, zaman pertanian; ketiga, zaman industri; keempat, zaman informasi- pengetahuan; dan kelima zaman kebijaksanaan. Peradaban manusia mulai dari zaman berburu dengan peralatan sederhana, karena hal itulah yang baru mereka ketahui tentang peradaban pada saat itu. Peradaban mulai berubah sejak ada “orang” disebut “petani” yang membawa metode untuk menghasilkan makanan dengan bercocok tanam, mulai dari mengolah tanah, menebar benih dan akhirnya panen bahan pangan.  Sebagai petani, mereka bisa menghasilkan limapuluh kali lebih banyak dari para pemburu.

Begitu produktifnya petani pada waktu itu, sehingga banyak menarik minat  masyarakat untuk bertani. Persis seperti itulah yang terjadi pada nenek moyang kita. Mudah dibayangkan sejak itu terjadi penurunan jumlah pemburu dan pengumpul makanan hingga 90 persen, sampai akhirnya para pemburu kehilangan pekerjaan. Beberapa generasi berlalu dan tibalah zaman industri ditandai dengan upaya yang mengarah pada spesialisasi, delegasi dan kemampuan untuk memperbesar skala usaha. Proses ini menghasilkan tingkat efisiensi yang sangat tinggi. Produktivitas meningkat limapuluh kali lipat dibanding sistem pertanian keluarga. Sejalan dengan itu, 90 persen petani kehilangan pekerjaan mereka. Bahkan kini di Amerika, Jepang dan sebagian besar negara-negara di Eropa, petani yang menghasilkan sebagian besar makanan dan bahan pangan primer (on farm) hanya tinggal tiga persen saja.

Bagaimanakah transformasi peradaban dari zaman pertanian, industri ke zaman pekerja informasi dan pengetahuan ? Apakah Indonesia mengalami kejadian  seperti itu juga ? Melihat tahapan awal perubahan peradaban yang sedang terjadi, banyak pendapat  meyakinkan bahwa memang seperti itulah adanya. Peningkatan yang dihasilkan zaman pekerja informasi dan pengetahuan adalah limapuluh kali sampai 10 ribu kali lipat dibandingkan zaman pemburu hasil alam. Kerja pengetahuan (knowledge work) mendongkrak semua investasi lain yang sudah dilakukan individu, keluarga dan organisasi termasuk suatu pemerintahan. Pada kenyataannya, para pekerja pengetahuan adalah penghubung ke semua investasi lain yang dilakukan melalui institusinya. Mereka memberi fokus, kreativitas dan pendongkrak (leverage)  manfaat semua investasi itu agar dapat lebih baik, memberi nilai tambah dan mencapai berbagai sasaran. Inilah tantangan peradaban manusia yang akan datang,  termasuk  bagi Indonesia. Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi tantangan ini ? Apa yang harus dipersiapkan; apa yang harus kita kerjakan? apa yang harus kita korbankan dan apa yang harus dibayar untuk menjadi pemain di zaman baru ini ?


Kita ingin semuanya bisa ikut punya andil membangun kemakmuran keluarga, masyarakat dan bangsanya. Orang yang mengatas namakan peradaban namun hanya memakmurkan dirinya, keluarganya dan kelompoknya  tapi merugikan pihak lain adalah ketidak beradaban. Oleh karena itu dalam rangka membangun peradaban dunia yang didambakan jangan hanya sekadar menang dalam berkompetisi jangka pendek.  Jangan hanya mencapai kemenangan  dengan cara saling menghancurkan pihak lain, namun bagaimana mengikuti  kompetisi menuju kebaikan dan kemajuan sehingga semua  mitra yang ikut dalam persaingan akan saling menghormati karena mendapat manfaat. Prinsip belajar untuk kebajikan, prinsip menang-menang dan akrab-selaras dengan lingkungan harus jadi dasar peri kehidupan mendatang. Berkelanjutan dalam keserasian harus menjadi landasan kemanusiaan yang adil dan beradab. 

Kitchen World

Inovasi pangan dipercaya salah satu cara untuk meningkatkan daya saing bangsa. Tanpa inovasi yang bersandarkan pada potensi kekuatan bangsa sendiri, maka sulit mengentaskan diri dari berbagai permasalahan, dan daya saing bangsa akan semakin tenggelam dalam percaturan global. Salah satu inovasi pangan meliputi inovasi di bidang pertanian
Untuk melihat peran inovasi teknologi dalam kegiatan ekonomi suatu negara, salah satu indikator yang digunakan adalah Total Factor Productivity (TFP). Selama tahun 1971-2001 TFP Indonesia hanya 0,002% jauh dibandingkan negara ASEAN lainnya seperti Thailand (1,8%), Singapura (1,5%) dan Malaysia (0,9%). Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih banyak ditopang oleh modal dibandingkan intervensi inovasi teknologi.
Pangan dan pertanian menjadi sektor yang sangat diperhatikan di Thailand. Sekitar 40% dari populasi tergantung pada pertanian sebagai mata pencaharian mereka dan memberikan kontribusi PDB sekitar 10%. Negara ini adalah eksportir beras terkemuka di dunia dan telah berhasil memposisikan dirinya sebagai “Kitchen of the World,” dengan nilai tahunan dari ekspor makanan yang diperkirakan melebihi 1 triliun baht pada tahun 2012. Thailand telah mengurangi tingkat kemiskinan secara keseluruhan dalam beberapa tahun terakhir. Tercatat, Thailand mengalami pertumbuhan ekonomi yang konsisten. Pada tingkat makro, Thailand merupakan  negara yang memiliki surplus pangan.
Industri pangan di negeri gajah putih tersebut kini tidak lagi terlalu mengandalkan pangan sebagai komoditi, namun sudah bergeser ke arah  diversifikasi produk, dengan memanfaatkan kemampuan teknologi pangan yang dimiliki.
Teknologi pangan adalah aplikasi dari ilmu pangan untuk sortasi, pengawetan, pemrosesan, pengemasan, distribusi, hingga penggunaan bahan pangan yang aman dan bernutrisi. Dalam teknologi pangan, dipelajari sifat fisis, mikrobiologis, dan kimia dari bahan pangan dan proses yang mengolah bahan pangan tersebut. Spesialisasinya beragam, diantaranya pemrosesan, pengawetan, pengemasan, penyimpanan dan sebagainya.
Perjalanan yang dilakukan Thailand sehingga mampu mengenbangkan industrialisasi pangan yang berbasis teknologi pangan dimulai dari penguatan dasar pertanian yang dimilikinya. Hal ini yang dapat dicontoh oleh Indonesia dengan memperkuat basis pertanian melalui pengembangan agribisnis.
Dalam tahap produksi pada proses agribisnis, hasil berupa bahan mentah yang cukup guna memasok kebutuhan untuk tahap pengolahan atau sektor industri. Perbaikan pada produksi pertanian akan meningkatkan daya beli penduduk di pedesaan, dan pada gilirannya hal ini akan merupakan pasar yang baik bagi hasil industri.
Selain itu, pengembangan agroindustri sebaiknya dikebangkan sebelum mengembangkan industry manufaktur lain. Serta memberikan pemahaman kepada petani agar petani memiliki orientasi bisnis, tidak hanya menjadi petani buruh yang hanya bergantung pada musim panen. (RAP)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Agribisnis Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger